Back to homepage

Analisis Ketenagakerjaan 2016

Analisis Ketenagakerjaan 2016

Tuntutan pembangunan yang mendukung dan berkesinambungan semakin meningkat sejalan dengan bergulirnya reformasi. Paradigma pembangunan mengalami perubahan bentuk dari pembangunan government yang menekankan bahwa pemerintah memegang peran dominan dalam pembangunan menjadi governance yang menjadikan pelaku pembangunan yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat memegang peran yang sama penting dalam pembangunan.

Untuk mengevaluasi perkembangan pembangunan manusia suatu bangsa salah satunya diukur dari profil ketenagakerjaannya. Pembangunan manusia dipahami sebagai kumpulan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, dan sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan tersebut maka profil ketenagakerjaan harus memperlihatkan kondisi yang membaik dimana salah satunya dapat dilihat dari turunnya angka pengangguran. Kesejahteraan sendiri diukur dari seberapa banyak rakyat yang dapat hidup layak. Mereka yang tidak dapat hidup layak akan masuk ke dalam kemiskinan. Secara absolut, penduduk dikatakan miskin ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya (basic needs) seperti pangan, sandang, papan dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengakses berbagai pelayanan dasar seperti air bersih, sanitasi, transportasi umum, fasilitas kesehatan, dan pendidikan. Ketidakmampuan yang menjerumuskan penduduk ke dalam kemiskinan tersebut tidak lain adalah kemampuan daya beli yang tidak memadai.

Tingginya angka pengangguran tidak hanya menimbulkan masalah-masalah dibidang ekonomi saja, melainkan juga menimbulkan berbagai masalah dibidang sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial. Terkait dengan banyaknya pengangguran maka banyak pula penduduk yang kemampuan daya belinya tidak memadai sehingga memaksa mereka jatuh dalam jurang kemiskinan. Selain dihadapkan pada masalah pengangguran, keadaan ketenagakerjaan juga dihadapkan pula pada masalah setengah pengangguran, yang secara ekonomi tergolong bekerja namun jam kerjanya berada dibawah jam kerja normal. Hal ini tentunya juga terkait dengan masalah produktivitas tenaga kerja dalam mewujudkan decent living.

 

Unduh Selengkapnya